Perekonomian Pertanian Harus Ditata
Posted by erik12127 pada Juli 30, 2009
Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, pemerintah tidak punya pilihan selain melakukan stimulus fiskal 2009. Namun, penerapannya mengorbankan masyarakat golongan menengah ke bawah.
“Untuk solusi jangka pendek untuk mempertahankan ekonomi ini bisa dimengerti, tapi untuk jangka panjang sektor bawah mesti diperhatikan,” kata Dwi Budi Santosa, pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya saat rapat dengar pendapat di Ruang GBHN DPP Jakarta, Senin (27/7).
Kalau pertumbuhan ekonomi bisa melejit 7 persen pascastimulus, menurut Budi, tidak masalah. Sebab, kelebihannya bisa dimanfaatkan golongan menengah ke bawah. “Namun, sayangnya pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2010 range-nya 5-6 persen, dengan poin 5 persen,” tutur Budi.
Lebih lanjut, ia mengharapkan, ke depan pemerintah harus menata perekonomian pertanian, yang mencakup perkebunan, kehutanan, dan kelautan. “Sektor perkebunan sawit, kayu, dan terutama kelautan sangat potensial. Value added-nya untuk pasar internasional sangat besar,” tutur Budi.
Cara yang ia tawarkan adalah pemerintah mesti berani bernegoisasi dengan negara donor untuk menghentikan sementara pembayaran utang luar negeri. Alasannya, negara kita memerlukan pembenahan pascakrisis. Dana tersebut dialokasikan untuk menata dan membangun sektor pertanian. “Sektor ini sudah dikorbankan dalam menjaga ekonomi makro, maka harus ada kompensasi untuknya. Kalau sektor ini meningkat, pendapatan petani dan nelayan bisa naik,” tandas Budi.

